Penemuan inti atom
Setelah penemuan proton dan elektron, Ernest Rutherford
melakukan penelitian penembakan lempeng tipis emas. Jika atom terdiri dari
partikel yang bermuatan positif dan negatif maka sinar alfa yang ditembakkan
seharusnya tidak ada yang diteruskan atau menembus lempeng sehingga muncullah
istilah inti atom. Ernest Rutherford dibantu oleh Hans Geiger dan Ernest
Marsden (1911) menemukan konsep inti atom didukung oleh penemuan sinar X oleh
WC. Rontgen (1895) dan penemuan zat radioaktif (1896). Percobaan Rutherford
dapat digambarkan sebagai berikut.
Percobaan Rutherford, hamburan sinar alfa oleh lempeng
emas. Hasil percobaan ini membuat Rutherford menyatakan hipotesisnya bahwa atom
tersusun dari inti atom yang bermuatan positif dan dikelilingi elektron yang
bermuatan negatif, sehingga atom bersifat netral. Massa inti atom tidak
seimbang dengan massa proton yang ada dalam inti atom, sehingga dapat
diprediksi bahwa ada partikel lain dalam inti atom.
Penemuan neutron
Prediksi dari Rutherford memacu W. Bothe dan H. Becker
(1930) melakukan eksperimen penembakan partikel alfa pada inti atom berilium
(Be) dan dihasilkan radiasi partikel berdaya tembus tinggi. Eksperimen ini
dilanjutkan oleh James Chadwick (1932).
Chadwick mengamati bahwa berilium yang ditembak dengan
partikel α memancarkan suatu partikel yang mempunyai daya tembus yang sangat
tinggi dan tidak dipengaruhi oleh medan magnet maupun medan listrik. Partikel
ini bersifat netral atau tidak bermuatan. Partikel ini kemudian diberi nama
neutron dan dilambangkan dengan
Sifat-sifat neutron adalah :
- Tidak bermuatan karena sinar neutron dalam medan listrik ataupun medan magnet tidak dibelokkan ke kutub positif dan negatif.
- Mempunyai massa yang hampir sama dengan massa atom, yaitu 1,675 x 10-24 g atau 1,0087 sma.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar