Bentuk umum jamur berupa benang-benang yang dilapisi dinding sel kaku yang disebut hifa. Hifa bercabang-cabang membentuk miselium. Beberapa jamur uniseluler misalnya khamir (ragi) tidak membentuk miselium. Terdapat dua jenis miselium yaitu miselium vegatatif/somatik berfungsi untuk menyerap zat organik dari lingkungannya, sedangkan miselium reproduktif menghasilkan spora untuk perkembangbiakan. Beberapa jenis jamur pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan membentuk miselium yang membulat yang tahan terhadap pengaruh lingkungan yang disebut sklerotia.
Hifa jamur berbentuk benang-benang halus yang berisi
protoplasma. Setiap hifa lebarnya antara 5 – 10 mikrometer. Sebagian jamur
hifanya bersekat-sekat yang disebut septa. Sitoplasma dan nukleus dapat berpindah
dari satu ruang ke ruang yang lain melalui pori-pori pada septa. Sel-sel dalam
hifa dapat mengandung satu atau lebih inti sel.
Berdasarkan morfologinya hifa dibedakan menjadi tiga
macam, yaitu:
- Hifa asepta atau senosit, yaitu hifa yang tidak mempunyai sekat dari dinding sel.
- Hifa bersekat (bersepta) dengan sel berinti tunggal (uninukleat). Setiap ruang yang dibatasi septa sering dikatakan sebagai sel.
- Hifa bersepta dengan sel-sel multinukleat.
Bagian jamur yang tampak sehari-hari adalah tubuh buah
atau sporofor yang bervariasi dalam ukuran, bentuk, warna, dan ketahanan
hidupnya. Pada beberapa jenis jamur tubuh buah berukuran sangat kecil yang
hanya dapat diamati dengan mikroskop, misalnya sel-sel khamir lebarnya berkisar
antara 1 - 5 mikrometer dengan panjang 5 - 30 mikrometer atau lebih. Biasanya
berbentuk bulat seperti bola atau bulat memanjang dan tidak mempunyai alat
gerak. Jenis jamur yang lain tubuh buahnya dapat mencapai diameter 20 - 25 cm
dan panjang 25 - 30 cm. Jamur terbesar yang pernah ditemukan diameternya
mencapai 150 cm.
Beberapa jamur dapat berubah bentuk sesuai dengan kondisi
lingkungan. Sifat ini disebut dimorfisme, contohnya jamur Histoplasma
capsulatum (dapat menyebabkan tuberculosis pada manusia) tumbuh normal di tanah
membentuk miselium, tetapi jika berada di dalam tubuh manusia akan berbentuk
uniseluler akibat peningkatan suhu dan tersedia cukup makanan.
Jamur belum mempunyai akar, batang, dan daun sehingga
keseluruhannya disebut talus. Talus jamur ada yang membentuk struktur
menyerupai akar, batang, dan daun tumbuhan. Jamur mempunyai dinding yang
tersusun atas zat kitin dan β-glukan. Jamur tidak mempunyai klorofil sehingga
hidupnya bersifat heterotrof yaitu memperoleh makanan secara parasit, saprofit,
maupun bersimbiosis dengan organisme lain.
Jamur memperoleh makanan dengan menyerap karbohidrat
terlarut secara langsung seperti glukosa, sukrosa, dan fruktosa. Jika yang
tersedia adalah polisakarida tak larut seperti selulosa, pati, hemiselulosa,
dan lignin, maka jamur mengeluarkan enzim untuk mencerna secara ekstraseluler
dan menyerap hasilnya. Selain membutuhkan zat organik yang diperoleh dari
makhluk hidup lain, jamur juga memerlukan beberapa zat anorganik dalam
metabolismenya.
Jamur menyukai tempat-tempat yang lembab, kaya bahan
organik, dan pH-nya agak asam. Kebanyakan jamur bersifat mesofilik yaitu tumbuh
optimum pada suhu 20° - 30°C. Namun ditemukan juga jenis jamur termofilik yang
mampu tumbuh pada suhu di atas 50°C. Pada suhu 0°C atau kurang beberapa jamur
psikrofilik dapat hidup dan disebut jamur salju. Jamur inilah yang sering
merusak bahan makanan yang didinginkan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar