Pemanfaatan Radioisotop dalam Bidang Kesehatan
Dalam bidang
kesehatan, radioisotop kebanyakan digunakan untuk terapi kanker dan teknik
pencitraan (penggambaran) organ tubuh atau scan. Contoh alatnya
adalah Tomografi Emisi Positron (PET), dimana pasien disuntik dengan larutan
yang diberi label senyawa radioaktif yang dengan cepat bergerak ke otak. Inti
radioaktif dalam senyawa tersebut mengemisikan positron.
Radioisotop yang digunakan dalam bidang kesehatan
memiliki waktu paruh yang sangat pendek, mulai dari beberapa menit sampai
dengan beberapa hari saja. Di samping memiliki waktu paruh yang pendek, energinya juga rendah dan
diberikan dalam dosis yang sangat sedikit.
Pemanfaatan Radioisotop dalam Bidang Peternakan
Salah satu pemanfaatan radioisotop dalam bidang
peternakan adalah RIA (Radioimmuno Assay), yaitu metode deteksi yang didasarkan
pada interaksi antigen-antibodi. Antigen (hormon) yang berlabel radioaktif
dapat digunakan untuk mendeteksi kandungan hormon dalam sampel. Isotop yang
dapat digunakan untuk teknik RIA adalah H-3, C-14, dan I-125. Aplikasi RIA di
bidang peternakan bertujuan untuk mengukur konsentrasi hormon progesteron dalam
sampel serum darah atau susu.
Tujuan pengukuran progesteron ini adalah untuk mendeteksi
pubertas ternak, mendeteksi gejala birahi, diagnosis kehamilan dini, mendukung
program inseminasi buatan (IB), dan diagnosis kelainan reproduksi ternak.
Dampak sosial ekonomi dari pengaplikasian teknik RIA adalah penghematan
pelayanan IB, hamil tepat waktu, produksi susu stabil, dan perbaikan keturunan.
Pemanfaatan Radioisotop dalam Bidang Pertanian
Dalam bidang pertanian, radioisotop dapat digunakan dalam
pembuatan bibit unggul, penentuan waktu pemupukan yang tepat, dan pengendalian
hama. Di Indonesia, berbagai penelitian mengenai penggunaan radioisotop untuk
membuat bibit unggul tanaman industri telah dilakukan. Sejak 1982 hingga
sekarang Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi BATAN telah melepas 12
varietas padi unggul, 4 varietas kedelai unggul, dan 1 varietas kacang hijau
unggul.
Radioisotop nitrogen-15 dapat digunakan untuk penentuan
waktu pemupukan yang tepat. Pupuk yang mengandung N-15 dipantau dengan alat
pencacah (pengukur radiasi). Ketika pencacah tidak lagi mendeteksi radiasi,
artinya pupuk telah terserap habis. Dari data tersebut dapat diketahui jangka
waktu pemupukan yang sesuai dengan usia tanaman.
Pemanfaatan Radioisotop dalam Bidang Perairan
Dalam bidang perairan, radioisotop bermanfaat untuk
menentukan gerakan sedimen di pelabuhan dan daerah pantai, melacak zat
pencemar, menemukan kebocoran dam atau bendungan, menentukan arah gerakan air
tanah, menyelidiki hubungan antarsumur minyak, menentukan debit air sungai, dan
studi geothermal. Radioisotop yang sering digunakan adalah iridium-192,
aurum-198, dan scandium-46.
Pemanfaatan Radioisotop dalam Bidang Arkeologi
Dalam bidang arkeologi, peluruhan radioisotop
dimanfaatkan untuk mengukur usia fosil. Pengukuran ini didasarkan pada
peluruhan isotop karbon-14 yang memiliki waktu paruh 5.730 tahun. Bagaimana
peluruhan isotop karbon-14 ini dapat dimanfaatkan untuk menentukan usia batuan?
Ketika sinar kosmik yang berenergi tinggi (mengandung partikel neutron)
memasuki lapisan atmosfer, partikel neutron akan bereaksi dengan isotop
nitrogen-14 menghasilkan isotop karbon-14.
Isotop karbon-14 tersebut kemudian bereaksi dengan
unsur-unsur kimia lainnya membentuk senyawa yang dikonsumsi makhluk hidup.
Selama makhluk hidup tersebut hidup, jumlah karbon-14 di dalam tubuhnya tetap.
Akan tetapi, ketika makhluk hidup tersebut meninggal, jumlah karbon-14 yang
terkandung dalam makhluk hidup akan meluruh. Dengan mengukur jumlah karbon-14
yang meluruh, para peneliti dan arkeolog dapat menduga usia fosil tersebut.
Pemanfaatan Reaksi Fisi sebagai Energi
Salah satu bidang yang memanfaatkan energi nuklir untuk
kepentingan masyarakat adalah bidang kelistrikan. Produksi energi nuklir
sebagai sumber energi listrik dilakukan di dalam reaktor nuklir. Sumber energi
dalam reaktor nuklir atau ledakan nuklir adalah reaksi berantai. Inti uranium
atau plutonium (terbelah), mengeluarkan neutron yang membelah inti lain. Dalam
reaktor, kalor ini digunakan secara terkendali untuk menghasilkan listrik.
Dalam ledakan bom, kalor ini dikeluarkan secara tak terkendali.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar