Pengertian Konsumsi dan Konsumen
Konsumsi adalah kegiatan menghabiskan atau mengurangi nilai guna suatu barang dan jasa. Makan nasi adalah merupakan kegiatan konsumsi karena menghabiskan nilai guna nasi, memakai baju juga merupakan kegiatan konsumsi karena mengurangi nilai guna baju. Kedua contoh di atas merupakan contoh sederhana dari kegiatan konsumsi. Contoh yang lain tentang kegiatan konsumsi adalah membaca buku, menonton YouTube, memotong kuku, olah raga, berobat ke dokter, menelpon, naik sepeda motor, dan sebagainya.
Konsumen adalah orang atau pihak yang melakukan kegiatan
konsumsi tersebut. Misalnya siswa merupakan konsumen pendidikan, pasien
merupakan konsumen pengobatan, bahkan semua orang dapat berperan sebagai
konsumen karena semua orang selalu berupaya untuk memenuhi kebutuhan seperti
makan, minum, berpakaian, berekreasi, dan sebagainya.
Teori Perilaku Konsumen
Untuk menjelaskan perilaku konsumen dalam memperoleh
kepuasan terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi terdapat dua pendekatan
teori, yaitu pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal.
Pendekatan kardinal
Pendekatan kardinal menganggap bahwa kepuasan konsumen
yang diperoleh dari kegiatan konsumsi barang dan jasa dapat diukur secara
kuantitatif. Artinya kepuasan konsumen dapat diukur dengan angka sebagaimana
kita mengukur berat badan, tinggi badan dan sebagainya. Kepuasan konsumen yang
diperoleh dari hasil konsumsi barang dan jasa disebut dengan istilah utilitas
(utility). Oleh karena itu pendekatan kardinal juga sering disebut dengan
pendekatan utilitas (utility approach).
Pendekatan kardinal beranggapan bahwa:
- Tingkat utilitas total yang dicapai seorang konsumen merupakan fungsi dari kuantitas barang yang dikonsumsi.
- Konsumen akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya sesuai dengan anggaran yang dimilikinya.
- Tingkat kepuasan konsumen dapat diukur secara kuantitatif.
- Tambahan kepuasan dari setiap unit tambahan barang yang dikonsumsi akan menurun.
Pendekatan ordinal
Pendekatan ordinal menggunakan pengukuran ordinal
(bertingkat) dalam menganalisis kepuasan konsumen. Artinya kepuasan konsumen
tidak dapat diukur dengan angka tetapi hanya dapat diukur dengan peringkat,
misalnya tidak puas, puas, lebih puas, sangat puas dan seterusnya. Pendekatan
ini juga sering disebut dengan pendekatan indeferens. Pendekatan ordinal tidak
menganggap bahwa tingkat utilitas dapat diukur secara angka tetapi konsumen
hanya memiliki skala preferensi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi
- Pendapatan. Semakin besar pendapatan yang diterima oleh seseorang, semakin besar pula daya belinya. Akan tetapi sebaliknya jika pendapatan seseorang semakin kecil, maka kemampuan membeli akan barang dan jasa juga semakin kecil, semakin sedikit barang atau jasa yang dapat dibeli/dimiliki.
- Harga barang dan jasa. Harga barang sangat menentukan terhadap besar atau kecilnya konsumsi seseorang. Jika harga barang naik, maka seseorang akan memperkecil konsumsinya, sebaliknya jika harga barang turun, seseorang akan memperbesar konsumsinya. Akan tetapi perubahan harga barang ini tidak berlaku untuk barang kebutuhan pokok pada umumnya yang selalu akan dibeli dalam jumlah yang relatif tetap, kendati harga mengalami perubahan.
- Adat istiadat dan kebiasaan. Dua faktor ini cukup berpengaruh pada konsumsi seseorang atau masyarakat. Adat istiadat dan kebiasaan dapat menyebabkan seseorang berperilaku konsumtif ataupu tidak konsumtif.
- Barang substitusi atau pengganti. Jika terdapat barang yang dapat menggantikan fungsi suatu barang yang dibutuhkan seseorang dengan harga yang jauh lebih murah, maka barang tersebut dapat mempengaruhi konsumsi seseorang/masyarakat tersebut.
- Jumlah penduduk. Suatu perekonomian yang penduduknya relatif banyak, pengeluarannya untuk konsumsi pun akan lebih besar daripada perekonomian yang jumlah penduduknya sedikit, meskipun pendapatan nasional kedua masyarakat tersebut sama besarnya.
- Barang konsumsi tahan lama. Barang-barang yang dikonsumsi tetapi tidak cepat habis kegunaannya, contohnya adalah handphone, motor, mobil, TV, sepatu dan lain-lain.
- Ramalan atau prediksi perubahan harga. Dalam kenyataan harga barang dan jasa tidaklah stabil. Kalau diperkirakan harga akan naik, maka masyarakat ada tendensi untuk sesegera mungkin menggunakan uangnya guna membeli barang dan jasa, sekalipun pendapatan masyarakat tidak berubah.
- Selera masyarakat. Di antara orang-orang yang usianya sama, namun pengeluaran konsumsinya tidak sama, karena perbedaan sikap menghemat dan selera dalam berkonsumsi. Bila masyarakat memiliki selera yang menurun dalam konsumsi, maka tingkat konsumsi juga akan turun. Sebaliknya jika selera konsumsi masyarakat meningkat, hal ini akan meningkatkan konsumsi pula.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar