Sabtu, Desember 19, 2020

Perilaku Konsumen : Pengertian Konsumsi, Konsumen, Teori Perilaku Konsumen dan Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen

Pengertian Konsumsi dan Konsumen

Konsumsi adalah kegiatan menghabiskan atau mengurangi nilai guna suatu barang dan jasa. Makan nasi adalah merupakan kegiatan konsumsi karena menghabiskan nilai guna nasi, memakai baju juga merupakan kegiatan konsumsi karena mengurangi nilai guna baju. Kedua contoh di atas merupakan contoh sederhana dari kegiatan konsumsi. Contoh yang lain tentang kegiatan konsumsi adalah membaca buku, menonton YouTube, memotong kuku, olah raga, berobat ke dokter, menelpon, naik sepeda motor, dan sebagainya.

 


Konsumen adalah orang atau pihak yang melakukan kegiatan konsumsi tersebut. Misalnya siswa merupakan konsumen pendidikan, pasien merupakan konsumen pengobatan, bahkan semua orang dapat berperan sebagai konsumen karena semua orang selalu berupaya untuk memenuhi kebutuhan seperti makan, minum, berpakaian, berekreasi, dan sebagainya.

 

Teori Perilaku Konsumen

Untuk menjelaskan perilaku konsumen dalam memperoleh kepuasan terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi terdapat dua pendekatan teori, yaitu pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal.

Pendekatan kardinal

Pendekatan kardinal menganggap bahwa kepuasan konsumen yang diperoleh dari kegiatan konsumsi barang dan jasa dapat diukur secara kuantitatif. Artinya kepuasan konsumen dapat diukur dengan angka sebagaimana kita mengukur berat badan, tinggi badan dan sebagainya. Kepuasan konsumen yang diperoleh dari hasil konsumsi barang dan jasa disebut dengan istilah utilitas (utility). Oleh karena itu pendekatan kardinal juga sering disebut dengan pendekatan utilitas (utility approach).

Pendekatan kardinal beranggapan bahwa:

  • Tingkat utilitas total yang dicapai seorang konsumen merupakan fungsi dari kuantitas barang yang dikonsumsi.
  • Konsumen akan berusaha untuk memaksimalkan kepuasannya sesuai dengan anggaran yang dimilikinya.
  • Tingkat kepuasan konsumen dapat diukur secara kuantitatif.
  • Tambahan kepuasan dari setiap unit tambahan barang yang dikonsumsi akan menurun.

 

Pendekatan ordinal

Pendekatan ordinal menggunakan pengukuran ordinal (bertingkat) dalam menganalisis kepuasan konsumen. Artinya kepuasan konsumen tidak dapat diukur dengan angka tetapi hanya dapat diukur dengan peringkat, misalnya tidak puas, puas, lebih puas, sangat puas dan seterusnya. Pendekatan ini juga sering disebut dengan pendekatan indeferens. Pendekatan ordinal tidak menganggap bahwa tingkat utilitas dapat diukur secara angka tetapi konsumen hanya memiliki skala preferensi.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi

  • Pendapatan. Semakin besar pendapatan yang diterima oleh seseorang, semakin besar pula daya belinya. Akan tetapi sebaliknya  jika pendapatan seseorang semakin kecil, maka kemampuan membeli akan barang dan jasa juga semakin kecil, semakin sedikit barang atau jasa yang dapat dibeli/dimiliki.
  • Harga barang dan jasa. Harga barang sangat menentukan terhadap besar atau kecilnya konsumsi seseorang. Jika harga barang naik, maka seseorang akan memperkecil konsumsinya, sebaliknya jika harga barang turun, seseorang akan memperbesar konsumsinya. Akan tetapi perubahan harga barang ini tidak berlaku untuk barang kebutuhan pokok pada umumnya yang selalu akan dibeli dalam jumlah yang relatif tetap, kendati harga mengalami perubahan.
  • Adat istiadat dan kebiasaan. Dua faktor ini cukup berpengaruh pada konsumsi seseorang atau masyarakat. Adat istiadat  dan kebiasaan dapat menyebabkan seseorang berperilaku konsumtif ataupu tidak konsumtif.
  • Barang substitusi atau pengganti. Jika terdapat barang yang dapat menggantikan fungsi suatu barang yang dibutuhkan seseorang dengan harga yang jauh lebih murah, maka barang tersebut dapat mempengaruhi konsumsi seseorang/masyarakat tersebut.
  • Jumlah penduduk. Suatu perekonomian yang penduduknya relatif banyak, pengeluarannya untuk konsumsi pun akan lebih besar daripada perekonomian yang jumlah penduduknya sedikit, meskipun pendapatan nasional kedua masyarakat tersebut sama besarnya.
  • Barang konsumsi tahan lama. Barang-barang yang dikonsumsi tetapi tidak cepat habis kegunaannya, contohnya adalah handphone, motor, mobil, TV, sepatu dan lain-lain.
  • Ramalan atau prediksi perubahan harga. Dalam kenyataan harga barang dan jasa tidaklah stabil. Kalau diperkirakan harga akan naik, maka masyarakat ada tendensi untuk sesegera mungkin menggunakan uangnya  guna membeli barang dan jasa, sekalipun pendapatan masyarakat tidak berubah.
  • Selera masyarakat. Di antara orang-orang yang usianya sama, namun pengeluaran konsumsinya tidak sama, karena perbedaan sikap menghemat dan selera dalam berkonsumsi. Bila masyarakat memiliki selera yang menurun dalam  konsumsi, maka tingkat konsumsi juga akan turun. Sebaliknya jika selera konsumsi masyarakat meningkat, hal ini akan meningkatkan konsumsi pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar