Minggu, Juni 28, 2020

Sistem Pernafasan pada Ikan dan Katak (Amfibi)

Ikan

Ciri khas alat pernapasan bagi hewan-hewan vertebrata yang hidup di air adalah insang. Insang pada ikan terletak pada ruang insang di sisi kanan dan kiri kepalanya. Pada ikan bertulang sejati, insangnya dilindungi dengan tutup insang (operkulum). Ikan mengambil oksigen yang terlarut di dalam air dengan cara mengalirkan air melalui celah-celah insang.

 


Pada celah insang terdapat banyak pembuluh darah kapiler. Arah aliran darah pada insang berlawanan dengan arah aliran air yang melewati insang. Aliran air yang melalui insang berlangsung secara tetap dan terus-menerus. Aliran air disebabkan adanya tekanan dari rongga mulut dan daya isap insang. Adanya katup pengatur mulut dan operkulum menyebabkan aliran air hanya satu arah. Kegiatan hidup ikan ini dapat kita amati dengan cara memperhatikan gerakan membuka dan menutupnya mulut ikan ketika berenang di dalam air. Sepintas tampak seolah-olah ikan sedang minum air, tetapi sebenarnya pada saat itu ikan sedang melakukan pernapasan, yakni dengan cara melewatkan air melalui celah insang. Pada saat air melewati insang, darah akan melepaskan karbon dioksida dan mengikat oksigen yang terlarut di dalam air melalui celah insang tadi.

 

Pada beberapa jenis ikan tertentu yang hidup di air keruh (lumpur), misalnya gurami, betok, gabus, dan lele memiliki alat bantu pernapasan yang disebut labirin. Labirin ini merupakan perluasan insang, terletak di atas insang. Dengan adanya labirin memungkinkan jenis-jenis ikan tersebut dapat bertahan hidup di tempat yang kekurangan oksigen. Labirin berguna sebagai tempat menyimpan cadangan udara.

 

Amfibi

Salah satu hewan amfibi yang paling mudah dikenal dan banyak ditemukan di lingkungan sekitar kita adalah katak. Dalam proses perkembangan hidupnya katak mengalami metamorfosis. Pada fase awal dari kehidupannya,  yaitu berupa berudu atau kecebong yang hidup di air, sedangkan pada fase perkembangan selanjutnya akan menjadi  katak dewasa yang hidup di darat. Sejalan dengan perkembangan alat pernapasannya, katak juga mengalami perubahan.

 

Pada saat fase berudu katak bernapas dengan menggunakan insang luar, sedangkan pada fase dewasa katak bernapas menggunakan paru-paru dan kulit. Pada proses perkembangannya, peran insang luar pada berudu digantikan oleh insang dalam. Selanjutnya, insang luar tersebut akan mengalami perubahan dan tumbuh menjadi semacam selaput kulit di sekitar rongga mulut, sedangkan insang dalam akan berkembang menjadi paru-paru.

 


Alat pernapasan katak tipis dan kaya dengan kapiler darah, sehingga sangat baik untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Seperti telah dijelaskan di atas,  selain menggunakan paru-paru, katak juga bernapas dengan permukaan kulitnya. Kulit katak yang selalu basah dan berlendir memudahkan udara untuk masuk secara difusi. Katak memiliki rongga buko faring yang terletak di bagian bawah rongga mulutnya. Rongga buko faring dibentuk antara rongga mulut dan faring. Pada rongga ini terjadi gerakan sangat cepat. Pada saat bergerak, lubang hidung akan terbuka, glotis tertutup sehingga menyebabkan udara luar masuk ke dalam rongga tersebut.

 

Katak secara teratur juga menekan udara pernapasan dari rongga mulut masuk ke dalam paru-paru. Gerakan udara itu disebut gerakan menelan udara. Udara masuk melalui lubang hidung menuju rongga mulut. Dari rongga mulut udara ditekan (ditelan) masuk ke paru-paru. Pada saat menelan udara, lubang hidung menutup. Setelah terjadi pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam paru-paru, udara yang kaya karbon dioksida dikeluarkan. Ekspirasi pada katak terjadi secara pasif.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar