Kekayaan alam Indonesia sangat berpotensi dan bernilai
ekonomi tinggi. Tahukah Anda bahwa Indonesia merupakan salah satu negara
terbesar penghasil tembaga? Selain tembaga, Indonesia juga memproduksi dan
mengeksport nikel, mangan, bijih besi, dan emas dengan
jumlah yang besar. Di penghujung 2019 lalu, Eropa dihebohkan dengan keputusan
Indonesia untuk berhenti mengeksport Nikel kesana. Kabarnya, hal ini bukan dikarenakan
stok nikel yang habis tetapi karena imbas dari pemberhentian eropa untuk menerima
dan menggunakan sawit sebagai bahan produksi. Kita ketahui bahwa Indonesia
merupakan pemasok sawit terbesar.
Mangan (Mn)
Manganese atau mangan relatif melimpah di alam (0,1% kulit bumi). Salah
satu sumber mangan adalah batuan yang terdapat di dasar lautan yang dinamakan pirolusit.
Suatu batuan yang mengandung campuran mangan dan oksida besi.
Kegunaan umum mangan adalah untuk membuat baja yang
digunakan untuk mata bor (pemboran batuan). Mangan terdapat dalam semua biloks
mulai dari +2 hingga +7, tetapi umumnya +2 dan +7. Mangan(VII) terdapat sebagai
ion permanganate (MnO4–) yang banyak digunakan sebagai
pereaksi analitik.
Besi (Fe)
Ferrum (latin) atau besi merupakan logam yang cukup melimpah dalam
kulit bumi (4,7%). Besi murni berwarna putih kusam yang tidak begitu keras dan sangat
reaktif terhadap zat oksidator sehingga besi dalam udara lembap teroksidasi
oleh oksigen dengan cepat membentuk karat.
Kita ketahui besi banyak digunakan dalam kehidupan
sehari-hari, baik di bidang konstruksi bangunan, Transportasi dan lain
sebagainya.
Cobalt (Co)
Walaupun kobalt relatif jarang terdapat di alam, tetapi
dapat ditemukan dalam bijih smaltit (CoAs2) dan kobaltit (CoAsS)
dalam kadar yang memadai jika diproduksi secara ekonomis. Kobalt bersifat
keras, berwarna putih kebiruan, dan banyak digunakan untuk membuat paduan, seperti
baja perak (stainless steel). Baja perak merupakan paduan antara besi,
tembaga, dan tungsten yang digunakan dalam instrumentasi dan alat-alat
kedokteran seperti Isotop kobalt yang digunakan untuk perawatan pasien kanker.
Nickel (Ni)
Kelimpahan nikel dalam kulit bumi berada pada peringkat
ke-24, terdapat dalam bijih bersama-sama dengan arsen, antimon, dan belerang. Logam
nikel berwarna putih seperti perak dengan konduktivitas termal dan listrik
tinggi, tahan terhadap korosi, dan digunakan untuk melapisi logam yang lebih
reaktif. Nikel juga digunakan secara luas dalam bentuk paduan dengan besi
membentuk baja. Indonesia merupakan pemasok atau eksportir nikel terbesar kedua untuk Uni Eropa.
Dengan sifat konduktifitas yang bagus, Nikel banyak digunakan
dalam industri elektronik seperti baterai, smartphone, komputer dan lain-lain.
Selain itu, paduan logam nikel dengan tembaga membentuk alloi yang disebut monel,
dan digunakan untuk membuat baling-baling kapal laut.
Tembaga (Cu)
Cuprum atau Tembaga memiliki sifat konduktor listrik sangat baik
sehingga banyak digunakan sebagai penghantar listrik, misalnya untuk kabel
listrik. Selain itu, tembaga tahan terhadap cuaca dan korosi. Walaupun tembaga
tidak begitu reaktif, tetapi dapat juga terkorosi. Warna kemerah-merahan dari
tembaga berubah menjadi kehijau-hijauan akibat terkorosi oleh udara membentuk patina.
Tembaga dalam jumlah sedikit diperlukan oleh tubuh manusia sebagai
perunut, tetapi dalam jumlah besar sangat beracun. Oleh karena beracun, garam tembaga
digunakan untuk membunuh jamur, bakteri, dan alga.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar