Senin, Februari 03, 2020

Manfaat atau Kegunaan Unsur Transisi (Mangan, Besi, Kobalt, Nikel dan Tembaga)



Kekayaan alam Indonesia sangat berpotensi dan bernilai ekonomi tinggi. Tahukah Anda bahwa Indonesia merupakan salah satu negara terbesar penghasil tembaga? Selain tembaga, Indonesia juga memproduksi dan mengeksport nikel, mangan, bijih besi, dan emas dengan jumlah yang besar. Di penghujung 2019 lalu, Eropa dihebohkan dengan keputusan Indonesia untuk berhenti mengeksport Nikel kesana. Kabarnya, hal ini bukan dikarenakan stok nikel yang habis tetapi karena imbas dari pemberhentian eropa untuk menerima dan menggunakan sawit sebagai bahan produksi. Kita ketahui bahwa Indonesia merupakan pemasok sawit terbesar.

Mangan (Mn)
Manganese atau mangan relatif melimpah di alam (0,1% kulit bumi). Salah satu sumber mangan adalah batuan yang terdapat di dasar lautan yang dinamakan pirolusit. Suatu batuan yang mengandung campuran mangan dan oksida besi.


Kegunaan umum mangan adalah untuk membuat baja yang digunakan untuk mata bor (pemboran batuan). Mangan terdapat dalam semua biloks mulai dari +2 hingga +7, tetapi umumnya +2 dan +7. Mangan(VII) terdapat sebagai ion permanganate (MnO4) yang banyak digunakan sebagai pereaksi analitik.

Besi (Fe)
Ferrum (latin) atau besi merupakan logam yang cukup melimpah dalam kulit bumi (4,7%). Besi murni berwarna putih kusam yang tidak begitu keras dan sangat reaktif terhadap zat oksidator sehingga besi dalam udara lembap teroksidasi oleh oksigen dengan cepat membentuk karat.


Kita ketahui besi banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik di bidang konstruksi bangunan, Transportasi dan lain sebagainya.

Cobalt (Co)
Walaupun kobalt relatif jarang terdapat di alam, tetapi dapat ditemukan dalam bijih smaltit (CoAs2) dan kobaltit (CoAsS) dalam kadar yang memadai jika diproduksi secara ekonomis. Kobalt bersifat keras, berwarna putih kebiruan, dan banyak digunakan untuk membuat paduan, seperti baja perak (stainless steel). Baja perak merupakan paduan antara besi, tembaga, dan tungsten yang digunakan dalam instrumentasi dan alat-alat kedokteran seperti Isotop kobalt yang digunakan untuk perawatan pasien kanker.

Nickel (Ni)
Kelimpahan nikel dalam kulit bumi berada pada peringkat ke-24, terdapat dalam bijih bersama-sama dengan arsen, antimon, dan belerang. Logam nikel berwarna putih seperti perak dengan konduktivitas termal dan listrik tinggi, tahan terhadap korosi, dan digunakan untuk melapisi logam yang lebih reaktif. Nikel juga digunakan secara luas dalam bentuk paduan dengan besi membentuk baja. Indonesia merupakan pemasok atau eksportir nikel terbesar kedua untuk Uni Eropa.


Dengan sifat konduktifitas yang bagus, Nikel banyak digunakan dalam industri elektronik seperti baterai, smartphone, komputer dan lain-lain. Selain itu, paduan logam nikel dengan tembaga membentuk alloi yang disebut monel, dan digunakan untuk membuat baling-baling kapal laut.

Tembaga (Cu)
Cuprum atau Tembaga memiliki sifat konduktor listrik sangat baik sehingga banyak digunakan sebagai penghantar listrik, misalnya untuk kabel listrik. Selain itu, tembaga tahan terhadap cuaca dan korosi. Walaupun tembaga tidak begitu reaktif, tetapi dapat juga terkorosi. Warna kemerah-merahan dari tembaga berubah menjadi kehijau-hijauan akibat terkorosi oleh udara membentuk patina.

Tembaga dalam jumlah sedikit diperlukan oleh tubuh manusia sebagai perunut, tetapi dalam jumlah besar sangat beracun. Oleh karena beracun, garam tembaga digunakan untuk membunuh jamur, bakteri, dan alga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar